Keadaan Sosial Budaya Sungai Indus

Keadaan Sosial Budaya Sungai Indus

Penggalian-penggalian di situs Mohenjodaro-Harappa, mengungkapkan bahwa pendukung peradaban ini telah memiliki tingkat peradaban yang tinggi. Dari bukti-bukti peninggalan yang didapat, kita memperoleh gambaran bahwa penduduk Mohenjodaro-Harappa telah mengenal adat istiadat dan telah mempunyai kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakatnya. Misalnya, banyak ditemukan amulet-amulet atau benda-benda kecil sebagai azimat yang berlubang-lubang, diasumsikan digunakan sebagai kalung. Lalu, ditemukan juga materai yang terbuat dari tanah liat, yang kebanyakan memuat tulisan-tulisan pendek dalam huruf piktograf, yaitu tulisan yang bentuknya seperti gambar. Sayangnya, huruf-huruf ini sampai sekarang belum bisa dibaca, sehingga misteri yang ada di balik itu semua belum terungkap.

Keadaan Sosial Budaya Sungai Indus

Keadaan Sosial Budaya Sungai Indus

Benda-benda lain yang ditemukan di kawasan Mohenjodaro-Harappa adalah bermacam-macam periuk belanga yang sudah dibuat dengan teknik tuang yang tinggi. Selain itu ditemukan juga benda-benda yang terbuat dari porselin Tiongkok yang diduga digunakan sebagai gelang, patung-patung kecil, dan lain-lain.

Dari hasil penggalian benda, dapat diasumsikan bahwa teknik menuang logam yang telah mereka lakukan sudah tinggi. Mereka dapat membuat piala-piala emas. Mereka dapat membuat piala-piala emas, perak, timah hitam, tembaga, maupun perunggu. Penduduk Mohenjodaro-Harappa sudah mampu membuat perkakas hidup berupa benda tajam yang dibuat dengan baik. Namun, senjata seperti tombak, ujung anak panah, ataupun pedang, sangat rendah mutu buatannya. Hal ini mengindikasikan bahwa penduduk Mohenjodaro-Harappa merupakan orang-orang yang cinta damai, atau dengan kata lain tidak suka berperang. Pada masa ini pula, diduga masyarakat Mohenjodaro-Harappa telah mengenal hiburan berupa tari-tarian yang diiringi genderang. Di tempat penggalian ini juga ditemukan alat-alat permainan berupa papan bertanda serta kepingan-kepingan lain.

Masyarakat Mohenjodaro-Harappa telah mempunyai tata kota yang sangat baik. Masyarakat pendukung kebudayaan ini juga dikenal mempunyai sistem sanitasi yang amat baik. Mereka mempunyai tempat pemandian umum, yang dilengkapi dengan saluran air dan tangki air di atas perbentengan jalan-jalan utama.

Menurut Tom B.Jones dalam buku From Tigris to the Tiber : An Introduction o Ancient History, peradaban lembah Sungai Indus memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.       Merupakan sebuah negara agama atau teokrasi.

2.       Memiliki stratifikasi sosial yang jelas.

3.       Terdapat golongan pendeta.

4.       Dalam bidang ekonomi, literatur dan lembaga pengetahuan telah ditata dengan teratur.

Identifikasi peradaban lembah Sungai Indus[5]:

1.       Makanan

Makanan utama penduduk ialah gandum, gandum untuk dibuat minuman keras (barley malt) dan sebangsa kurma. Mereka juga makan daging domba, babi, ikan, dan telur.

2.       Baju dan Perhiasan

Kain katun umum digunakan sebagai pakaian. Wool untuk pakaian penghangat. Perhiasan dipakai baik oleh wanita maupun pria, misalnya, kalung, gelang tangan, dan cincin. Perhiasan yang khusus dipakai kaum wanita ialah korset, cincin hidung, anting-anting dan gelang kaki. Perhiasan ini pada umumnya terbuat dari emas, perak, gading, tembaga dan bat mulia seperti batu giok dan akik.

3.       Barang-barang rumah tangga

Kendi yang beraneka ragam telah dibuat dengan roda, ada yang sederhana dan ada yang dilukis. Kendi biasanya dibuat dari tembaga, perak, dan porselin. Besi belum dikenal. Jarum dan sisir dibuat dari batu atau gading. Kapak, pahatan, pisau, sabit, pancing, dan silet dibuat dari tembaga dan perunggu. Ada mainan anak-anak misalnya kereta dan kursi kecil beroda. Ditemukan pua potongan-potongan dadu.

4.       Pemeliharaan Binatang

Sisa-sisa kerangka membuktikan bahwa sapi jantan, kerbau, biri-biri, gajah, dan unta telah dipelihara. Anjing juga sudah dipelihara sedangkan kuda belum.

5.       Senjata-senjata Perang

Meliputi kapak, tombak, pisau belati, tongkat, busur dan anak panah. Pedang belum ditemukan. Juga tidak dijumpai perisai, topi baja atau baju zirah. Senjata-senjata tersebut dibuat dari tembaga atau perunggu.

6.       Materai

Lebih dari 500 materai telah ditemukan, terbuat dari lepengan tanah liat yang dibakar dan ukurannya kecil. Beberapa materai berisi gambar binatang atau tulisan piktorial yang belum dapat diuraikan.

7.       Kesenian

Adanya gambar-ambar dalam materai menunjukkan seni yang tinggi. Di Harappa ditemukan potongan-potongan bat yang dipahat.

8.       Perdagangan

Materai-materai yang ditemukan itu berkaitan dengan dunia perdagangan. Rakyat lembah Indus tidak hanya berdagang dengan bagian lain wilayah India, tetapi juga dengan negara-negara Asia lain seperti Bangsa Sumeria. Dri perdagangan itu, didatangkan timah, tembaga, dan batu mulia dari luar India.

9.       Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk telah dapat diidentifikasi. Pertanian memainkan peran yang penting. Gandum dan katun ditanam dalam skala besar mata pencaharian lain dalam masyarakat adalah pembuat barang pecah belah, penenun, tukang pembuat hiasan dinding, dan pemotong batu. Kemajuan teknik ditunjukkan oleh roda untuk membuat barang pecah belah, pembakaran batu-batu, pencetakan dan pengolahan logam.

10.   Agama

Barang-barang peninggalan di Mohenjo Daro memperlihatkan kepercayaan rakyat. Mereka diduga memuja Divine Mother (Dewi Pertiwi), meyakini energi wanita sebagai sumber seluruh penciptaan. Ada pula dewa pria yang diduga sebagai prototipe Dwa Siwa. Dalam satu materai, Siwa digambarkan duduk dalam posisi yoga, dikelilingi binatang-binatang. Dia memiliki tiga wajah. Di sini dapat ditarik kesimpulan adanya hubungan organik antara peradaban Lembah Sugai Indus dengan Hinduisme sekarang. Peradaban Sungai Indus merupakan sumber peradaban berikutnya, memberikan kontribusi penting dalam pertumbuhan dan perkembangan peradaban India.

11.   Kronologi

Periode eksistensi peradaban Sungai Indus diduga berlangsung paling awal ± 2900 SM atau sampai ± 1700 SM. Sementara migrasi bangsa Arya ke India diperkirakan terjadi ± 2000-1500 SM.

Ada beberapa pendapat mengenai siapa pendukug peradaban sungai Indus, yaitu:

1.      Orang-orang Sumeria

2.      Orang-orang Dravida

3.      Antara Sumeria dengan Dravida identik. Menurut pendapat ketiga ini, orang-orang Dravida pada suatu waktu mendiami seluruh India, termasuk wilayah Punjab, Sind, dan Baluchistan. Secara bertahap mereka beremigrasi ke Mesopotamia. Fakta bahwa rumpun Bahasa Dravida masih dipakai oleh orang-orang Brahui yang tinggal di Baluchistan sekarang, dijadikan penguat pendapat ini.

Ada beberapa faktor yang dapat diajukan mengenai keruntuhan peradaban Sungai Indus ini, yaitu[6]:

1.       Kesulitan untuk mengontrol Sungai Indus bila terjadi banjir. Harappa barangkali ditinggalkan penduduknya karena bencana banjir.

2.       Penggundulan hutan oleh penduduk lembah Sungai Indus untuk diambil kayunya. Akibat penggundulan hutan ini adalah bahaya banjir dan erosi.

3.       Serbuan asing yang diperkirakan dilakukan oleh bangsa Arya. Bukti yang mendukung hal ini misalnya adalah ditemukannya kumpulan tulang belulang yang berserakan di suatu ruangan besar di tangga menuju tempat pemandian. Bentuk dan sikap tulang belulang itu ada yang menggeliat dalam posisi takut karena timbulnya serangan mendadak.

Pusat Peradaban

Lembah sungai Gangga terletak antara Pegunungan Himalaya dan PegununganWindya-Kedna. Sungai itu bermata air di Pegunungan Himalaya dan mengalir melalui kota-kota besar seperti Delhi, Agra, Allahabad, Patna, Benares melalui wilayah Bangladesh danbermuara di teluk Benggala. Sungai  Gangga bertemu dengan sungai KwenLun. Dengan keadaan alam seperti itu tidak heran jika lembah Sungai Gangga ini sangat subur.

Pendukung peradaban lembah Sungai Gangga adalah bangsa Aria yang termasuk bangsaIndo Jerman. Bangsa Arya memasuki wilayah India antara tahun 200-1500 SM, melaluiCelah Kaibar di Pegunungan Hirnalaya.

Kebudayaan lembah Sungai Gangga merupakan kebudayaan campuran antara kebudayaan bangsa Aria dengan bangsa Dravida. Hal ini di sesuaikan dengan nama daerah tempat bercampurnya kebudayaan,yaitu daerah Shindu atau Hindustan.

Peradaban lembah Sungai Gangga meninggalkan jejak yang sangat penting dalam sejarah umat manusia hingga kini. Di tempat ini muncul dua agama besar dunia,yaitu agama Hindu dan Buddha. Agama hindu lahir dari budaya campuran bangsa Aria dan Dravida itu. Bahkan peradaban dan kehidupan bangsa hindu tesebut tercantum dalam kitab suci agama hindu, yaitu kitab Weda, Brahmana dan Upanisad. Agama Hindu merupakan perwujudandari kepercayaan peradaban bangsa Hindu. Sungai Gangga di anggap sebagai tempatkeramat dan suci bagi penganut Hindu India.Air Sungai Gangga dianggap dapat menyucikan diri manusia dan penghapus semua dosanya. Masyarakat Hindu memuja banyak dewa (Politeisme). Dewa-dewa tersebut, antara lain, Dewa Bayu (Dewa Angin), Dewa Baruna (Dewa Laut), Dewa Agni (Dewa Api), dan lain sebagainya.

Sementara itu, agama Buddha lahir sebagai bentuk reaksi beberapa golongan atas ajaran kaum Brahmana yang dipimpin oleh Siddharta  Gautama. Ia adalah seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu. Siddharta mendapat sinar terang menjadi Sang Buddha yang berarti “Yang Disinari”. Lambat laun agama Budhha dapat diterima masyarakat India  danmenyebar keberbagai belahan dunia.

B.     Pemerintahan

Perkembangan sistem pemerintahan di Lembah Sungai Gangga merupakan kelanjutan sistem pemerintahan masyarakat di daerah Lembah Sungai Shindus. Sejak runtuhnya Kerajaan Maurya,keadaan menjadi kacau dikarenakan peperangan antara kerajaan-kerajaan kecil yang ingin berkuasa. Keadaan ini baru dapat diamankan kembali setelah munculnya kerajaan-kerajaan baru. Kerajaan-kerajaan tersebut di antaranya Kerajaan Gupta dan Kerajaan Harsha.

1.        Kerajaan Gupta

Kerajaan ini didirikan oleh Raja Candragupta I (320-330 M) dengan pusatnya di lembah Sungai Gangga.Pada masa pemrintahannya agama Hindu dijadikan agama Negara, namun agama Buddha tetap dapat berkembang.

Kerajaan Gupta ini mencapai masa paling gemilang ketika Raja Samudra Gupta berkuasa,ia adalah cucu dari Candragupta I. seluruh lembah Sungai Gangga dan lembah Sungai Shindu berhasil dikuasainya dan ia menjadikan kota Ayodhia sebagai ibukota kerajaan.

Kemudian Pengganti Raja Samudragupta adalah Candragupta I(375-415 M), yang dikenal sebagai Wikramaditiya. Di bawah pemerintahan Candragupta II kehidupan rakyat semakin makmur dan sejahtera.. Kesusastraan mengalami masa gemilang. Pujangga yang terkenal pada masa ini adalah pujangga Kalidasa dengan karangannya berjudul “Syakuntala”. Perkembangan seni patung mencapai kemajuan yang juga pesat. Hal ini terlihat dari pahatan-pahatan dan patung-patung terkenal menghiasi kuil-kuil di Syanta.Dalam-perkembangannya Kerajaan Gupta mengalami kemunduran setelahRaja Candragupta IIwafat. India mengalami masa kegelapan selama kurang lebih dua abad.

2.      KerajaanHarsha

Pada abad ke-7 M muncul Kerajaan Harsha dengan rajanya Harshawardana. Ibu kota Kerajaan Harsha adalah Kanay. Harshawardana merupakan seorang pujangga besar. Pada zamannya kesusastraan dan pendidikan berkembang pesat. Salah satu pujangga yang terkenal pada masa kekuasaannya adalah pujangga Banadengan karyanya berjudul “Harshacarita”.Raja Harsha pada awalnya memeluk agama Hindu, tetapi kemudian memeluk agama Buddha. Di tepi Sungai Gangga banyak dibangun wihara dan stupa, serta dibangun tempat-tempat penginapan dan fasilitas kesehatan. Candi-candi yang rusak diperbaiki dan membangun candi-candi baru. Setelah masa pemerintahan Raja Harshawardana hingga abad ke-11 M tidak pernah diketahui adanya raja-raja yang pernah berkuasa di Harsha.Sehingga India kembali mengalami masa kegelapan

C.     Kebudayaan Lembah Sungai Gangga

Perkembangan kebudayaan masyarakat Lembah Sungai Gangga mengalami kemajuan banyak kemajauan dibidang kesenian, seperti kesusastraan, seni pahat, dan seni patung berkembang dengan pesat. Peradaban dari lembah sungai ini kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Asia termasuk di Indonesia.

Artikel Yang Mungkin Berkaitan dengan:

  1. Kehidupan Manusia Purba Masa perundagian
  2. Ilmu pengetahuan dan teknologi Mesir Kuno
  3. Contoh Sumber Sejarah
  4. PRINSIP-PRINSIP DASAR PENELITIAN SEJARAH LISAN
  5. ASAL-USUL MANUSIA INDONESIA
Update: 21 August, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>