Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada Zaman Manusia Purba

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada Zaman Manusia Purba

Masa berburu ini merupakan awal tahapan kehidupan manusia purba dalam bidang kehidupan sosial ekonomi. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan menghasilkan alat-alat yang digunakan untuk menopang kehidupannya. Selain itu, pada masa berburu menghasilkan pula sistem kepercayaan.

Untuk menghadapi berbagai ancaman, manusia purba itu hidup berkelompok dan jumlahnya tidak terlalu banyak. Biasanya mereka berada agak lama di daerah yang mengandung cukup banyak bahan makanan, terutama umbiumbian dan dedaunan, dekat sumber air, serta dekat dengan tempat-tempat mangkal binatang buruan. Mereka kemudian akan melakukan pengembaraan atau berpindah ke tempat lain. Di tempat sementara ini, kelompok berburu biasanya tersusun dari keluarga kecil dengan jumlah kurang lebih 20 sampai 50 orang. Tugas berburu binatang dilakukan oleh orang laki-laki sedangkan orang perempuan bertugas mengumpulkan makan, mengurus anak, dan mengajari anaknya dalam meramu makanan. Ikatan kelompok pada masa berburu sangat penting untuk mendukung berlangsungnya kegiatan bersama.

a. Kehidupan sosial-ekonomi

Kehidupan manusia purba pada masa berburu, belum melakukan pengolahan terhadap sumber-sumber daya alam. Ketergantungan manusia purba terhadap alam sangat tinggi, mereka memakan makanan yang sudah disediakan oleh alam. Cara yang mereka lakukan untuk mendapat makanan yaitu dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Masa Berburu dan mengumpulkan makanan merupakan cara yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya. Apabila persediaan makanan yang terdapat pada alam di mana mereka tinggal, maka tempat tersebut akan mereka tinggalkan. Oleh sebab itu, kehidupan manusia purba pada masa berburu berpindah-pindah (nomaden), tidak memiliki tempat tinggal.

Jenis makanan yang mereka buru adalah binatang di hutan. Selain binatang di hutan, mereka juga di sungai, danau, atau pantai melakukan penangkapan ikan. Hasil buruan baik binatang dari hutan maupun hasil tangkapan ikan, tidak mereka olah menjadi masakan sebagaimana layaknya hidangan makanan sekarang. Ikan atau daging itu, mereka bakar untuk dimakan. Pada masa berburu, pengolahan makanan baru sebatas dibakar saja, karena mereka sudah mengenal api.

Selain memakan binatang buruan dan ikan, manusia purba pada masa berburu sudah memakan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan yang mereka makan pada umumnya berupa umbi-umbian, yang biasanya tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka. Tumbuh-tumbuhan itu langsung mereka makan mentah-mentah, tidak dimasak dahulu. Mereka belum memiliki kemampuan menanak nasi.

Sebagaimana telah dikemukakan, manusia purba hidup secara berkelompok. Hal ini mereka lakukan pula ketika melakukan kegiatan berburu. Mereka berkelompok dengan tujuan demi keamanan terutama dalam menghadapi serangan dari binatang buas. Kalau dengan cara berkelompok perlindungan mereka relatif lebih aman daripada pergi sendiri.

Hewan dan makanan yang menjadi sumber penghidupan manusia purba, dicari pada daerah-daerah tertentu. Untuk mendapatkan makanannya baik dari itu hewan maupun tumbuh-tumbuhan, manusia purba hidup pada daerah-daerah tertentu yang memungkinkan mereka mendapatkan makanan. Dengan demikian kegiatan berburu atau mencari makanan dengan cara berpindah-pindah, bukan berarti manusia purba ini selalu bepergian seenaknya, dengan tidak menimpati suatu tempat. Mereka tetap menempati suatu daerah tertentu.

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada Zaman Manusia Purba

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada Zaman Manusia Purba

Kehidupan berburu menyebabkan manusia purba harus hidup berpindah-pindah.

Mereka belum memiliki rumah sebagai tempat tinggal yang permanen. Tempat yang dijadikan tempat tinggal sementara adalah gua-gua. Manusia purba, memilih tempat tinggal sementara, terutama daerah yang di sekitarnya tersedia makanan. Misalnya mereka tinggal dekat sungai atau pantai yang mudah untuk mencari ikan, atau hutan yang terdapat tumbuh-tumbuhan yang bisa mereka makan atau dapat dijadikan tempat berburu binatang.

Dalam masa berburu binatang, biasanya mereka menyusuri sungai yang dapat dijadikan petunjuk jalan agar tidak tersesat. Sungai mereka susuri dengan cara berjalan kaki, belum menggunakan perahu. Sedangkan di tepian pantai, manusia purba memakan makanan yang terdapat di pantai. Makanan yang mereka makan adalah kerang dan ikan laut. Teknik penangkapan ikan dilakukan dengan alat sederhana, belum menggunakan perahu atau jaring seperti sekarang. Mereka menggunakan tombak atau kail untuk menangkap ikan.

b. Alat-alat yang digunakan

Batu, tulang, dan kayu merupakan bahan-bahan yang digunakan oleh manusia purba untuk membuat alat-alat. Temuan yang dilakukan oleh para ahli, lebih banyak menemukan alat-alat dari batu dan tulang. Hal ini mungkin disebabkan batu dan tulang merupakan bahan yang kuat, tidak mudah lapuk. Sedangkan kayu merupakan bahan yang mudah lapuk, sehingga para ahli tidak terlalu banyak menemukan alat-alat yang terbuat dari kayu.

Bentuk alat-alat yang ditemukan pada masa berburu ini masih dalam bentuk sederhana. Batu yang digunakan masih kasar belum halus. Penemuan sejumlah alat dari batu ditemukan oleh von Koeningwald di Pacitan pada tahun 1935. Alat yang ditemukan berupa kapak genggam. Jenis alat ini serupa kapak tetapi tidak bertangkai. Alat ini disebut pula dengan sebutan chopper. Penggunaan alat ini dilakukan dengan cara digenggam. Bentuk kapak ini masih kasar, dan diperkirakan Pithecantrhopus merupakan pendukung kebudayaan kapak genggam. Pendapat ini didasarkan pada lapisan tempat ditemukannya kapak genggam. Kapak ini ditemukan pada lapisan tanah yang sama dengan lapisan tanah pithecanthropus.

Kapak genggam ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, antara lain Pacitan, Bali, Flores, Sulawesi Selatan, Kalimantan, dan Jawa Barat (Sukabumi dan Ciamis). Di luar Indonesia, jenis kapak ini ditemukan di Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Myanmar, dan Pakistan. Sezaman dengan Pithecanthropus, Sinanthropus Pekinensis yang ada di China meninggalkan juga jenis kapak genggam.

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada Zaman Manusia Purba

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada Zaman Manusia Purba

Di daerah Ngandong dan Sidorejo ditemukan pula alat lainnya yang terbuat dari tulang. Alat dari tulang itu banyak berasal dari tulang binatang hasil buruan. Bagian tulang yang digunakan sebagai alat biasanya bagian tanduk dan kaki. Fungsi dari alat ini dipergunakan untuk mengorek umbiumbian dari dalam tanah dan mengerat daging binatang. Tanduk atau tulang yang diikatkan pada kayu dapat berfungsi sebagai tumbak untuk berburu binatang atau menangkap ikan.

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada Zaman Manusia Purba

Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada Zaman Manusia Purba

Di daerah lainnya, yaitu Sangiran, Sulawesi Selatan, Maumere, dan Timor ditemukan alat-alat serpih yang dinamakan flakes. Flakes ini sangat kecil sekali dan bentuknya ada yang seperti pisau, gurdi, atau penusuk.  Diperkirakan flakes ini digunakan untuk mengupas, memotong, atau menggali makanan.

Kalau dikaitkan dengan kehidupan manusia purba, kebudayaan kapak genggam (chopper), alat tulang-tulang, dan flakes ini termasuk pada peninggalan jenis manusia Pihecanthopus Erectus. Manusia jenis ini hidup pada masa Palaeolithikum atau zaman batu tua dengan ciri-ciri kebudayaan yang dihasilkan banyak terbuat dari batu yang masih kasar.

c. Sistem kepercayaan

Pada masyarakat masa berburu dan mengumpulkan makanan, sistem kepercayaan pada sesuatu yang luar biasa atau kekuatan di luar kehendak manusia, tampaknya sudah ada. Hal itu dapat diketahui dari sisa-sisa penguburan manusia yang telah meninggal dunia. Dengan demikian, mereka percaya, bahwa ada suatu kehidupan lain setelah mati.

Artikel Terkait manusia purba

  • Australopithecus

    Australopithecus Fosil rahang dan fragmen menyarankan kepada ilmuwan bahwa nenek moyang monyet , kera , dan manusia mulai evolusi mereka sekitar 50 juta tahun yang lalu . Bukti tambahan untuk evolusi ini telah diturunkan dari percobaan dalam biokimia dan perubahan yang terjadi dalam DNA sel . Tingkat mutasi dalam DNA telah dihitung , dan perubahan […]

  • Homo Sapiens Homo Sapiens

    Homo Sapiens Fosil-fosil awal Homo sapiens tanggal untuk sekitar 200.000 tahun yang lalu. Homo sapiens berarti “manusia yang cerdas,” dan manusia modern diklasifikasikan dalam spesies ini. Homo sapiens diyakini telah berevolusi dari Homo erectus. Evolusi diperkirakan telah terjadi di Afrika. Fosil-fosil awal Homo sapiens menunjukkan perubahan bertahap selama 200.000 tahun terakhir menjadi varietas Homo sapiens, […]

  • Homo erectus

    Homo erectus The hominid pertama yang meninggalkan Afrika menuju Eropa dan Asia adalah Homo erectus. Bukti menunjukkan bahwa Homo habilis Homo erectus diganti. Homo erectus adalah tentang ukuran manusia modern dan sepenuhnya disesuaikan untuk berjalan tegak. Otaknya jauh lebih besar daripada otak leluhurnya, tapi itu fitur yang memisahkannya dari manusia modern. Alat-alat Homo erectus yang […]

  • Kehidupan Manusia Purba Masa perundagian

    Kehidupan Manusia Purba Masa perundagian Zaman perundagian adalah zaman di mana manusia sudah mengenal pengolahan logam. Hasil-hasil kebudayaan yang dihasilkan terbuat dari bahan logam. Adanya penggunaan logam, tidaklah berarti hilangnya penggunaan barang-barang dari batu. Pada masa perundagian, manusia masih juga menggunakan barang-barang yang berasal dari batu. Penggunaan bahan dari logam tidak begitu tersebar luas sebagaimana […]

  • Awal Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Budaya di Indonesia

    Awal Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Budaya di Indonesia Manusia adalah mahluk yang memiliki perbedaan dengan binatang. Perbedaan utama manusia dengan binatang adalah manusia memiliki akal sedangkan binatang tidak. Akal yang dimiliki oleh manusia itulah yang menjadi penyebab utama kehidupan manusia mengalami perkembangan. Perkembangan ini terjadi ketika manusia berinteraksi dengan lingkungan alam. Dengan akal yang dimilikinya, […]