Sistem Pernapasan Pada Reptil

Sistem Pernapasan Pada Reptil

Reptilia memiliki alat pernapasan berupa paru-paru. Pada kura-kura selain dengan paru-paru, pengambilan oksigen dibantu oleh lapisan kulit tipis dengan banyak kapiler darah yang ada di sekitar kloaka. Mekanisme respirasi adalah sebagai berikut:

-       Fase inspirasi: otot tulang rusuk berkontraksi sehingga rongga dada membesar yang diikuti paru-paru mengembang, akibatnya udara dari luar masuk melalui lubang hidung, trakea, bronkus, dan paru-paru.

Gas O2 dalam udara masuk melalui hidung → rongga mulut → anak tekak → trakea yang panjang → bronkiolus dalam paru-paru → dari paru-paru O2 diangkut darah menuju ke seluruh jaringan tubuh.

-        Fase ekspirasi: otot tulang rusuk relaksasi sehingga rongga dada dan paruparu mengecil, akibatnya udara dari paru-paru keluar melalui paru-paru, bronkus, trakea, dan lubang hidung.

Dari jaringan tubuh gas CO2 → di angkut darah menuju jantung → kemudian menuju ke paru-paru untuk dikeluarkan → bronkiolus → trakea yang panjang → anak tekak → rongga mulut → dan terakhir melalui lubang hidung.

Sistem pernapasan pada reptil

Sistem pernapasan pada reptil

Sistem pernapasan pada reptilia berbeda dengan sistem pernapasan pada serangga, dikarenakan organ pernapasan pada reptilia berbeda dengan organ pernapasan serangga, organ yang digunakan pada pernapasan reptilia adalah paru-paru. Sebab, sebagian besar reptilia hidup di daratan atau habitat yang kering. Untuk mengimbanginya, kulit reptilia bersisik dan kering, supaya cairan dalam tubuhnya tidak mudah hilang. Kulit bersisik pada reptilia merupakan suatu adaptasi hidup dalam udara kering, dan bukan sebagai alat pertukaran gas.

Walau begitu, ada pula mekanisme pernapasan reptilia yang dibantu oleh permukaan epitelium lembab di sekitar kloaka. Reptilia demikian misalnya kura-kura dan penyu. Hal ini dilakukan karena tubuh kura-kura dan penyu terdapat tempurung yang kaku. Tempurung ini menyebabkan gerak pernapasan kedua hewan tersebut terbatas.

Bentuk Paru-Paru Reptilia

 Paru-paru Reptilia berada dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Paru-paru Reptilia hanya terdiri dari beberapa lipatan dinding yang berfungsi memperbesar permukaan pertukaran gas. Paru-paru kadal, kura-kura, dan buaya lebih kompleks, dengan beberapa belahan-belahan yang membuat paru-parunya bertekstur seperti spon. Paru-paru pada beberapa jenis kadal, misalnya bunglon Afrika, mempunyai pundi-pundi hawa atau kantung udara cadangan sehingga memungkinkan hewan tersebut melayang di udara.

Sistem pernapasan pada reptil

Sistem pernapasan pada reptil

 

  1. SISTEM PENCERNAAN

Sistem pencernaan pada reptile terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Reptile pada umumnya terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Pada umumnya reptile adalah karnivora (pemakan daging). Saluran pencernaannya terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan kelenjar pencernaannya terdiri atas kelenjar ludah, pancreas dan hati.

Rongga Mulut. Disokong oleh rahang atas dan rahang bawah.Pada masing-masing rahang terdapat gigi-gigi yang berbentuk kerucut.Gigi menempel pada gusi dan sedikit melengkung kea rah rongga mulut. Dan khusus pada ular berbisa akan tumbuh gigi yang dapat menghasilkan racun yang terdapat pada rongga mulut. Pada buaya giginya bisa mnegalami 50 kali pergantian.Pada umumnya retil tidak mengunyah makanannya jadi giginya berfungsi sebagai penangkap mangsa.

Pada rongga mulut terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua.Pada reptilian pemakan insekta memiliki lidah yang dapat dijulurkan, sedangkan pada buaya dan kura-kura lidahnya relative kecil dan tidak dapat dijulurkan.Lidah ular berbentuk pembuluh yang terbungkus oleh selaput dan terletak di bagian rahang bawah. Memiliki kelenjar mukoid yang sekretnya berfungsi agar rongga mulut tetap basah dan dapat dengan mudah menelan mangsanya.Pada ular Kelenjar labia bermodifikasi menjadi kelenjar poison yang bermuara di kantung yang terletak di daerah gigi taring dan dikeluarkan melalui gigi tersebut.

1)      Kerongkongan (esophagus) merupakan saluran di belakang rongga mulut yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam esophagus tidak terjadi proses pencernaan.

2)      Lambung (ventrikulus) merupakan tempat penampungan makanan dan pencernaan makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang esophagus. Disini makanan baru mengalami proses pencernaan. Pada bagian fundus pylorus makanan dicerna secara mekanik dan kimia.

3)      Intestinum terdiri dari usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya menuju ke rectum, kemudian diteruskan ke kloaka untuk dibuang. Ukuran usus disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

4)      Kelenjar pencernaan, terdiri atas hati dan pancreas. Empedu yang dihasilkan oleh hati ditampung di dalam kantong yang disebut vesica fellea. Hati tediri dari dua lobus yaitu sinister dan dexter yang berwarna coklat kemerahan. Kantong empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati. Pancreas pada reptile terletak diantara lambung dan duodenum. Pancreas berbentuk pipih dan berwarna kekuning-kuningan.

  1. SISTEM EKSKRESI

Alat ekskresi pada Reptil berupa sepasang ginjal metanefros, kulit, dan paru-paru. Metanefros berfungsi setelah pronefros dan mesonefros yang merupakan alat ekskresi utama saat stadium embrio menghilang. Ginjal dihubungkan oleh ureter ke vesika urinaria yang bermuara langsung ke kloaka. Bentuk ureter menyempit di bagian posterior, ukurannya kecil, dan permukaannya beruang-ruang. Selain ginjal, reptile memiliki kelenjar kulit yang menghasilkan asam urat tertentu yang berguna untuk mengusir musuh.Pada jenis kura-kura tertentu terdapat sepasang vesika urinaria tambahan yang juga bermuara langsung ke kloaka dan berfungsi sebagai organ respirasi.

Pada kura-kura betina, alat respirasinya juga berperan membasahi tanah yang dipersiapkan untuk pembuatan sarang sehingga menjadikan tanah lebih lunak dan mudah digali.Hasil ekskresi reptile adalah asam urat. Dibandingkan Amfibi, Reptil hanya menggunakan sedikit air untuk membilas sampah nitrogen dari darah karena sebagian sisa metabolisme diekskresikan sebagai asam urat yang tidak beracun dalam bentuk pasta berwarna putih. Sisa air direabsorpsi oleh bagian tabung ginjal.Pada beberapa anggota Reptil, seperti buaya dan kura-kura air, selain mengekskresikan asam urat juga mengekskresikan amonia.Khusus pada kura-kura laut terjadi ekskresi garam dari sepasang kelenjar garam di kepala yang bermuara di sudut mata, sehingga sering terlihat seperti mengeluarkan air mata.Anggota lainnya, seperti ular, crocodilian, dan alligator tidak mempunyai vesika urinaria sehingga asam urat keluar bersama feses.

  1. SISTEM SIRKULASI

Sistem circulatoria pada reptilia dibagai menjadi tiga bagian utama:

1)      Jantung (Cor)

2)      Pembuluh darah (Vascularis)

3)      Darah

Cor (Jantung) :

1)      Jantung kadal posisisnya dibagaian median cranio ventral thorax (rongga dada di depan tengah-tengah bawah)

2)      Antara ventrikel dextrer dan ventrikel sinaiter dipisahkan oleh sekat yaitu septum septum ventrikularum tetapi sekat belum menutup secara sempurna

3)      Pada crocodillia (buaya nampak lebih sempurna tetapi masih ada lubang kecil yang disebut Foramen Fanizzae

4)      Antara autrium dan vnetrikel terdapat septum autrioventricularis yang dilengkapi klep (valvula)

5)      Pada kadal masih ada sinus venostra terletak di dorsal dari autrium dextar, fungsinya menerima darah dari venacava superior anterior lalu memasukkan darah melalui aparera sino atrikularis

6)      Pada foramen panizzae ada tiga pembuluh darah utama yaitu :

a)      Dua berasal dari ventriole dexter

  • Arcus aorta sinister
  • Arteri pulmo ovalis

b)      Berasal dari sinister

  • Arcus aorta dexter

c)      Fungsi cor Crocodilla (Foramen Panizzae) adalah :

  • Memungkinkan pemberian oksigen ke area pencernaan
  • Untuk menyeimbangkan tekanan dalam cor pada waktu binatang berenag

d)     Sebelum berenang atau menyelam, menarik nafas sedalam-dalamnya sehingga pulmo penuh dengan oksigen, oksigen terjepit darah tidak mengalir sehingga autrium sisnister menjadi kosong.

Darah dari vena masuk ke dalam cor melalui 1) sinus venosus, 2) auriculum dextra, 3) ventriculum dextra, 4) arteri pulmonalis dari paru-paru darah kembali masuk, 6) auriculum sinestra dan terus ke ventriculum sinestra. Dari sini akan melalui sepasang archus aorticus  yang selanjutnya ke arah dorsal mengelilingi oesephagus dari dasar archus aorticus dexter muncul dua arteri carotis (arteri carotis comunis dexter dan sisnistra) yang menuju leher dan kepala, dan arteri subclavia menuju ke masing-masing extermitas anterior.

Dua archus aorticus menghubungkan diri menjadi satu disebelah dorsal menjadi aorta dorsalis yang akan memberikan darah kepada alat-alat pada rongga tubuh, ke ekxtremitas posterior dan ekor. Darah vena dikumpulkan 1) oleh vena canva posterior yang menampung darah dari kepala dan kedua extremitas anterior, 2) oleh sebuah vena cava posterior yang menampung darah dari organun reproduction dan ren, 3) oleh vena porta hepatica menampung darah dari dalam tractus digestiva yang memecah menjadi kapiler-kapiler di dalam hepar dan dikumpulkan oleh vena hepatica yang pendek, dan 4)  Vena epigratris pada masing-masing sisi dalam rongga abdominalis menampung darah dari ekstremitas posterior, ekor, dan tubuh. Dari kedua vena cava itu akan masuk ke sinus venosus.

Tiga Pola Sistem Sirkulasi  Pada Reptil

Sistem peredaran darah pada reptil tidak bisa disamaratakan dalam satu model.Ini tidak begitu mengherankan mengingat keragaman morfologi, fisiologi dan perilaku yang ditemukan di dalam superkelas ini. Kita dapat membagi model jantung reptile ke dalam tiga pola; pola Squamata, pola Varanid, dan pola Crocodilian.

  1. 1.      Pola Squamata

Pola ini ditandai dengan tiga ruang jantung (2 atria dan 1 ventrikel jantung).Atrium kanan menerima darah miskin oksigen lalu diteruskan ke cavum venosum ventrikel.Atrium kiri menerima darah kaya oksigen dari paru-paru lalu diteruskan ke cavum arteriosum. Kontraksi ventricular pada pola ini adalah tunggal, yang mana akan berakibat pada tercampurnya darah miskin oksigen dan darah kaya oksigen.

  1. 2.      Pola Varanid

Kelompok kadal-kadalan/Varanida biasanya memiliki tingkat metabolism yang lebih tinggi dari reptile lainnya dan memilliki sedikit perbedaan struktur jantung.Pola ini memiliki karakteristik berjantung tiga ruang tetapi cavum venosum-nya lebih kecil dari pada cavum venosum pada pola Squamata.Selain itu peredaran darahnya ganda.Perbedaan ini mengurangi resiko pencampuran dari darah kaya oksigen dan darah miskin oksigen. Namun pencampuran masih dapat terjadi dalam beberapa keadaan

  1. 3.      Pola Crocodilia

Pola ini merupakan karakteristik dari Crocodilian.Jantungnya terdiri dari empat ruangan (dua atria dan dua ventrikel), tetapi terdapat saluran sempit, yaitu foramen Panizza, yang menghubungkan dua arteri utama (arteri kanan dan arteri kiri).Dua system arteri ini muncul dari ruang ventrikel yang berbeda (arteri kiri dari ventrikel kanan, dan arteri kanan dari ventrikel kiri).Ini memberikan kesempatan bagi paru-paru untuk melakukan anoxia (mengurangi suplai oksigen pada jaringan tubuh) pada kondasi tertentu, misalnya ketika menyelam dalam air.Menurut para penyelam sukarelawan, buaya dapat diam dalam air selama 10-15 menit.Ketika buaya sedang bersembunyi dari mangsanya, kemampuan menyelam ini bisa lebih lama lagi, sekitar 30 menit atau lebih. Eksperimen menunjukkan bahwa kebanyakan buaya sebenarnya dapat bertahan di bawah air hingga 2 jam jika dalam keadaan tertekan.

Darah miskin oksigen dari tubuh di terima oleh atrium kanan dan di transport ke ventrikel kanan. Dari sana darah dipompa ke paru-paru dan kembali ke atrium kiri. Darah kaya akan oksigen ini kemudia di pompa oleh ventrikel kiri menuju seluruh tubuh.

Walaupun system arteri kiri berasal dari ventrikel kanan, darah ini tersuplai oleh oksigen dari darah kaya oksigen di ventrikel kiri melalui foramen panizza.Karena tekanan dalam system sirkulasi lebih tinggi dari sirkulasi paru-paru.Katup pada basal system arteri kiri tetap tertutup untuk menjaga darah tetap terpisah.

Ketika buaya menyelam, tekanan udara terbentuk dalam paru-paru, menurunkan aliran pada system paru-paru. Ini menurunkan jumlah darah yang mengalir ke paru-paru dan output dari ventrikel kanan langsung masuk ke system arteri kiri. Dengan cara ini, buaya mampu mencegah aliran darah ke paru-paru jika tidak diperlukan.

SISTEM REPRODUKSI

Jantan Betina
1)      Memiliki alat kelamin khusus : hemipenis

2)      Sepasang testis

3)      Memiliki epididymis

4)      Memiliki vas deferens

1)      Memiliki sepasang ovarium

2)      Memiliki saluran telur (oviduk)

3)      Berakhir pada saluran kloaka

 

Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter atau kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari cadangan makanan yang ada dalam telur.Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium.Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka.Reptil jantan menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet.Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina.

Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya.Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah.

Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan kura-kura serta berbagai jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.

SISTEM INDERA

Reptil memiliki alat indera dengan kepekaan yang berbeda- beda, bergantung pada spesiesnya. Beberapa reptil juga memiliki indera khas yang tidak dimiliki oleh reptil lainnya. Namun, secara umum indera yang dimiliki oleh reptil adalah indera penglihatan, pendengaran dan kemoreseptor khusus.

a)      indera penglihatan

Secara umum, reptil memiliki struktur mata yang sama dengan vertebrata lainnya. Ada yang memiliki kelopak mata, ada pula yang tidak. Akomodasi pada semua reptil kecuali ular diatur oleh lensa yang dikelilingi dengan cincin otot sehingga lensa dapat memipih danmembesar. Sementara pada ular, untuk akomodasi lensa mata dapat diarahkan maju- mundur.

Mata pada ular tidak memiliki kelopak mata, tapi dilindungi oleh selaput transparan.Penglihatan ular tidak sejelas penglihatan manusia.Sensor yang ditangkap adalah bayangan dan sensitif terhadap cahaya dan panas.Sebagian besar ular juga memiliki mata median yang berada di atas kepalanya.Mata median merupakan hasil envaginasi dari dienchephalon.Mata median ini tidak membentuk gambaran retina.Fungsinya adalah untuk mengamati durasi dari fotoperiodisme lingkungan dan memasukkan pengaruhnya terhadap ritme biologis. Mata median ini diduga juga berguna untuk menakar kadar radiasi sinar matahari yang memapar tubuh ular. Pada bunglon, mata lateralnya dapat berputar 3600. Selain itu, kedua mata lateralnya dapat bergerak ke arah yang berbeda.Sehingga, hewan ini dapat melihat ke dua arah sekaligus.

b)     Indera Pendengaran

Reptil tidak memiliki daun telinga. Pada kadal, gendang telinganya nampak jelas terlihat dari luar, berada tepat di belakang rahang.Buaya memiliki gendang telinga yang berada di dalam lubang telinga, tepatnya berada di ujung saluran telinga. Gendang telinga ini berfungsi untuk menggetarkan tulang- tulang pendengaran.Akan tetapi, hampir semua jenis ular tidak memiliki gendang telinga. Sehingga, sinyal- sinyal getaran diterima dari lingkungan melalui rahang bawah.

c)      kemoreseptor khusus

1)      Organ Vomeronasal

Organ ini fungsinya ekuiivalen dengan indera pembau pada manusia.Karena hidung ular hanya memiliki epitel respirasi, maka fungsi penciumannya digantikan oleh organ ini.Organ vomeronasal atau organ Jacobson berhubungan dengan bulbus olfaktorius dan berfungsi sebagai pendeteksi kimia adanya mangsa maupun pemangsa.Lidah berfungsi sebagai poembawa sinyal kimia berupa gas dari lingkungan ke dalam organ ini

2)      Organ perasa

Lidah pada reptil memiliki sedikit kuncup kecap. Sehingga, ia bisa merasakan mangsanya.

3)      Pit Organ

Pit organ merupakan detektor panas pada ular. pit organ ini berupa lubang- lubang di depan wajah ular yang di dalamnya terdapat membran thermoreseptor. Pada gambar berikut, organ pit ditunjukkan dengan panah warna merah.Sementara, panah berwarna hitam menunjukkan lubang hidungnya

SISTEM RANGKA

Reptil memiliki tengkorak yang penulangannya lebih banyak daripada amfibi dan terdapat banyak variasi di bagian temporal. Tengkorak reptil yang memiliki lubang spesifik dibagian temporal disebut tipe tengkorak anapsid. Tipe tengkorak jenis ini ditemukan pada kura-kura. Sedangkan tipe tengkorakeurapsid ditemukan pada Plesiosaurus dan kerabatnya, mempunyai sebuah penyambung supratemporal yang berkembang di kedua sisi tengkorak. Reptile di era Permian sampai Jurassic mempunyai tengkorak seperti mamal, ada sepasang lubang infratemporal disebut tipe diapsid, yang ditandai dengan lubang supra dan infratemporal. Ciri ini juga menjadi cirri reptile sesudah era cheloina ( Testudinata).

Atap ruang otak reptile adalah melengkung agak datar, seperti pada kelas Amphibia. Sebuah foramen parietal kea rah  pineal, atau mata ketiga, ditemukan pada Tuatara (sphenodon)I  dan beberapa jenis kadal, tetapi tidak ditemukan pada kebanyakan reptil. Selain ular semua reptile memiliki tulangseptum orbitalis. Perkembangan awal dari palatum sekunder, dari nares internal ke bagian belakang ringga mulut melintaas sepanjang nasal tersebut, ditemukan pada kura-kura dan sebangsanya. Palatum sekunder berkembang baik pada buaya.Ada sebuah kondilus oksipital. Tulang quadrat pada kura-kura, buaya maupun tuatara, menyatu dengan baik.Rahang atas dan bawah pada ular dan kadal dapat bergerak dengan baik, karena adanya engsel yang dilengkapi dengan ligamenutum. Ligamentum adalah jaringan ikat yyang berfungsi untuk menghubungkan tulang satu dengan tulang lainnya. Ligamentum ini merupakan penyambung kedua rahang, yakni rahang atas dan rahang bawah, sedangkan rahang bawah kanan dan rahang bawah kiri juga dihubungkan oleh ligamentum elastic oleh karena itu rahang ular mampu bergerak kuadratik dan memungkinkan menelan mangsa yang ralatif besar dari ukuran kepalanya. Kemampuan ular untuk menelan mangsa kebih besar ini juga dibantu oleh karena tidak adanya stermum. Gigi pada kura-kura tidak ada tetapi digantikan oleh lembaran bertanduk.Gigi reptile terdapat pada bagian premaksila dan maksila.Gigi tersusun atas bagian palatin, vomer dan pterigoid.

Kolumna vertebralis reptile kecuali pada ular dan kadal, berada pada bagian servik, thorak, lumbal, sacrum dan kauda.Kondilus oksipital dihubungkan dengan vertebra servik pertama (atlas). Tulang leher kedua (aksis) menahan bagian anteriornya yang dikenal sebagai prosesus odontoid  yang diyakini sebagai pusat dari atlas tersebut. Vertebra thorakis mendukung tulang iga dan bertemu sternum pada bagian ventral (kecuali pada reptile tak bertungkai dan kura-kura).Antara vertebra thorak dan kedua vertebra sacrum adalah bagian lumbal yang sangat fleksibel geraknya.Jumlah vertebra bagian ekor pada reptile sangat bervariasi. Ruas tulang belakang kura-kura, selain servik dan kauda, menyatu pada lempeng karapaks. Sebagian besar reptile mempunyai cetrum tulang belakang yang disebut procoelous  ( pro = depan, coelous = cekung) dengan tipe persendian berbentuk bola dan socket, ujung posterior membulat dan ujung anteriornya cekung. Bentuk sambungan ini sangat bervariasi tergantung dari tipe gerakan reptile bersangkutan, sehingga dapat ditemukan berbagai bentuk permukaan cetrum vertebra, antara lain ;procoelous, opisthocoelous, heterocoelous, amphycoelous maupun acoelous.

Ular dan reptile yang tidak bertungkai tidak memiliki alat gerak, beberapa reptile lain terdapat sisa-sisa tungkai yang tersembunyi tampak sebagai taji. Tungkai kura-kura laut mengalami modifikasi menjadi sirip untuk berenang, namun kura-kura darat memiliki tungkai untuk menyangga berat tubuhnya.

Kadal, umumnya memiliki 5 jari pada masing-masing kaki dan beberapa spesies mempunyai kemampuan untuk berlari sangat cepat, tetapi ada kadal yang tidak bertungkai sehinga menyerupai ular.Jari kaki pada beberapa reptile sejenis buaya mungkin terpisah atau menjadi satu oleh anyaman selaput sebagai adaptasi untuk kehidupan air.

Artikel Yang Mungkin Berkaitan dengan:

  1. Proses Penghantaran Impuls
  2. Pengertian dan Fungsi Lemak
  3. Contoh Teori Biogenesis
  4. Macam-macam Vitamin dan Fungsinya
  5. Definisi seminiferus Tubulus
Update: 6 April, 2014

3 comments on “Sistem Pernapasan Pada Reptil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>