Fenomena Angkutan Umum Online

Fenomena angkutan umum online, ada apa dengannya?

Sejarah

Angkutan umum online mulai hadir di dunia sekitar tahun 2009 lalu. Berawal dari UBER yang beroperasi di San Francisco, Amerika Serikat, kemudian meluas ke berbagai negara di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri mulai hadir pada tahun 2014 yang diprakarsai oleh UBERTaxi, setahun kemudian disusul oleh GOJEK, sebuah platform produk lokal. Beberapa waktu kemudian diikuti oleh GRAB sebagai platform produk luar Indonesia.

Selama masa beroperasinya ketiga angkutan umum online (GOJEK, GRAB, UBER) tersebut dari awal sampai saat ini, telah mengalami beberapa perubahan sistem aplikasi. Selain perubahan sistem aplikasi, perubahan-perubahan peraturan pemerintah yang mengatur pun turut mewarnai perjalanan operasional angkutan umum online. Selain itu, muncul juga gelombang protes dari pengemudi angkutan umum konvensional di beberapa daerah.

Logo Angkutan Umum Online di Indonesia

 

Fenomena Angkutan Umum Online

Di awal operasionalnya, sedikit orang yang ingin menjadi driver angkutan umum online. Tetapi, seiring berjalannya waktu, makin banyak orang yang ingin menjadi driver. Penambahan jumlah driver yang sangat pesat akhir-akhir ini menjadi fenomena tersendiri. Hal ini tidak terlepas dari menggiurkannya penawaran yang diberikan oleh perusahaan kepada para drivernya.

Penawaran penghasilan yang menggiurkan inilah yang menjadi fenomena keberadaan angkutan umum online. Bagaimana tidak menggiurkan, para driver diberikan penawaran pendapatan yang sangat besar. Dalam rentang waktu 1 bulan, para driver dapat memperoleh penghasilan antara jutaan sampai belasan juta jika mencapai target yang ditetapkan. Rentang penghasilan ini bisa diperoleh bergantung pada kendaraan yang digunakan, kinerja dan performa driver.

Penghasilan yang menggiurkan ini bukan berarti tidak ada hambatan dalam meraihnya. Seperti yang telah disinggung di atas, ada beberapa kendala yang harus dihadapi oleh para driver. Hambatan paling besar yang harus dihadapi oleh para driver adalah resistensi dari berbagai lapisan angkutan umum konvensional. Resistensi muncul mulai dari angkutan umum resmi seperti bus kota, angkot, taksi legal sampai dengan angkutan umum tidak resmi seperti ojek pangkalan, taksi gelap, mobil omprengan.

Meskipun demikian, minat masyarakat untuk menjadi driver bukannya menurun tetapi malah semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya antrian pendaftar untuk menjadi driver di kantor angkutan umum online manapun. Adanya resistensi dari pengemudi angkutan umum konvensional dan sering bergantinya peraturan pemerintah, bahkan sampai ada beberapa pelarangan tidak membuat surut minat masyarakat untuk menjadi driver angkutan umum online.

 

Opini Saya

Apa alasan masyarakat untuk tetap ingin menjadi driver angkutan umum online meskipun resistensi terjadi dan ada ketidak pastian regulasi dari pemerintah?

Menurut opini pribadi saya, fenomena ini terjadi karena 2 hal. Pertama, perolehan penghasilan yang dapat memenuhi semua kebutuhan hidup para driver. Kedua, tingginya demand pengguna jasa angkutan umum yang nyaman, aman, relatif tepat waktu dan mudah. Faktor pertama, penghasilan yang tidak menentu di angkutan umum konvensional sedangkan di angkutan umum online penghasilan sudah tentu sesuai dengan target, kinerja dan performa driver. Faktor kedua, kenyamanan, keamanan, ketepatan waktu dan kemudahan mendapatkan pelayanan menjadi pertimbangan utama para pengguna jasa angkutan umum. Sehingga, meskipun ada resistensi dan tidak pastinya regulasi dari pemerintah, tren angkutan ini ke depannya akan tetap meningkat.

 

Bagaimana menurut anda para pembaca budiman?

Silahkan didiskusikan melalui kolom komentar di bawah. Diskusi dengan santun serta sesuai dengan norma dan etika diskusi.

Ditulis pada Seri Opini Pribadi | Tag , , , , , , , | 2 Komentar